Budaya
melayani dan menolong (
salvation) merupakan
bagian dari citra diri seorang muslim. Mereka sadar bahwa kehadiran dirinya
tidaklah terlepas dari tanggung jawab terhadap lingkungannya. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, mereka
menunjukkan sikapnya untuk senantiasa terbuka hatinya terhadap keberadaan orang
lain, dan merasa terpanggil atau ada semacam ketukan yang
sangat keras dari lubuk hatinya untuk melayani.
Sikap melayani
melekat pada fitrah dirinya, sebagaimana setiap hari minimal tujuh belas kali kita membaca surah
al-Faatihah, sebagai pernyataan dan komitmen yang diungkapkan dengan penuh
kesadaran,
"Iyyaka na`budu" hanya kepada
Engkaulah kami menyembah!"
Kata
"abdun" dapat berarti menghamba, taat melayani
(sebagaimana seorang hamba melayani tuannya), berbakti (
ta`abud), selalu bersamanya (
`abada bihii), atau suatu jalan yang menurun dan rata (
thariiqm
mu`abbad).
Menarik untuk
disimak, pernyataan
iyyaka na`budu diungkapkan dalam bentuk jamak. Ada unsur kebersamaan
(bukan
a`budu `aku
mengabdi`). Dalam melayani, ego keakuan kita
hilang diganti dengan rasa kebersamaan. Hanya dengan
melayani atau saling melayani, niscaya kehidupan kita meningkat menuju
keluhuran budaya. Melayani bukan hanya sekadar menunjukkan sikap luar seperti
tersenyum, berpakaian rapi, atau hal lain yang
seringkali dijadikan tema pelatihan pelayanan prima. Tetapi, yang paling hakiki adalah bahwa "melayani merupakan bentuk keterpanggilan untuk memenuhi
janji atau amanah, ungkapan hati nurani dan karenanya merupakan salah satu
bentuk ketakwaan seseorang", sebagaimana Allah berfirman,
"Siapa yang menepati
janji (yang dibuatnya) dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran: 76)
Ungkapan "hanya kepada Engkaulah kami menyembah`," tidak bisa dibuktikan kecuali tampak dalam
kesehariannya untuk menunjukkan sikap pelayanan kepada siapa pun tanpa
membedakan ras, golongan, maupun agama. Allah berfirman,
"Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu
terdiri dari laki-laki dan wanita dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orangyang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui dan Maha Penyayang." (al-Hujuraat: 13)
Salah satu bentuk
kualitas pelayanan adalah tidak pemah tersirat sedikit pun dalam pikiran
seorang muslim untuk mengingkari janji. Karena, mengingkari janji termasuk
dalam kategori salah satu tanda orang munafik. Padahal, orang yang munafik
adalah penduduk neraka Jahannam
yang paling nista.
Seorang karyawan yang memiliki nilai takwa tidak
mungkin dengan sengaja datang terlambat ke kantor. Karena, hal itu merupakan
pelecehan teriiadap dirinya sendiri dan sekaligus memadamkan cahaya hatinya
yang selalu tumbuh mekar untuk melayani. Allah berfirman,
"Barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya
akibat ia akan melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri." (al-Fath: 10)
Karena itu, mereka yang cerdas secara ruhaniah akan
tampak dari sikapnya yang sangat besar perhatiannya terhadap janji dan
amanah,
"Sesungguhnya janji itu pasti diminta
pertanggungjawabannya." (al- Israa`: 34)
Melayani dengan cinta, bukan karena tugas atau
pengaruh dari luar. Tetapi, benar-benar sebuah obsesi yang sangat mendalam
bahwa "
aku ada karena aku melayani".
Bagi mereka,
pelayanan merupalan investasi perilaku dirinya. Bertambah banyak mereka
mengulurkan tangan dan melayani, maka bertambahlah investasinya. Mereka sadar
bahwa pelayanan akan memberikan keuntungan lahir- batin dan akan ada keuntungan
nyata dari penanaman modalnya yang berupa pelayanan tersebut.
Dengan penghayatan
itu, sadarlah mereka bahwa "siapa
pun di luar dirinya adalah customer" yang berhak mendapatkan pelayanan dirinya. Mereka menyadari
bahwa keberadaan dirinya. tidak mungkin berarti kecuali bersama- sama dengan
orang lain. Dengan melayani orang lain berarti dirinya ikut diberdayakan menuju kualitas akhlak
yang lebih luhur dan bermakna. Jiwanya selalu cenderung untuk memberikan arti
bagi orang lain dan lingkungannya,
"Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan
takwa."(al-Maa`idah: 2)
Dalam pelatihan
service excellent yang saya selenggarakan, motivasi awai kepada para peserta
adalah menggugah dirinya sebagai pelayan. Mereka harus memiliki "
sense of
servitude (service attitude)". Bahkan, salah satu yang membedakan manusia dengan binatang, ada pada sikap dirinya untuk
melayani. Kepada para peserta ditanamkan satu kesadaran bahkan komitmen
bahwa dirinya hanya mungkin berkembang dan akhlaknya semakin luhur dan berbinar
cemerlang dengan semangat pelayanan yang membara di hatinya. Selama pelatihan
tersebut, kepada para peserta ditanamkan kesadaran
self leadership `kepemimpinan yang dimulai dari diri sendiri` (
ibda bin nafsik), kepemimpinan yang dimulai dari dalam keluar. Pandangan
yang berorientasi pada "
we attitude" bukan "
I attitude" (kekamian bukan keakuan).
Salah satu ajaran
yang diteladankan Rasulullah yang harus ditanamkan sejak dini adalah rasa hormat kita kepada mereka yang lebih tua (senior) dan sangat mengasihi kepada yang kecil (junior). Sikap untuk memuliakan tamu merupakan salah satu mutiara
akhlak yang universal.
Bermuka manis itu adalah sedekah.
Menyingkirkan duri di jalanan adalah bagian dari cabang-cabang iman.
Sikap melayani
diteladani pula oleh para sahabat (Khulafaur-Rasyidin), sebagaimana kisah-kisah masyhur yang sering menjadi tema
pelajaran akhlak. Betapa Abu Bakar ash-Shiddiq membantu untuk memerah susu
kambing, walaupun ia sudah menduduki jabatan sebagai khalifah. Begitu juga
dengan Umar ibnul-Khaththab yang mengangkut sendiri karung gandum untuk diberikan
kepada seorang ibu yang memelihara anak-anak yatim dan menderita kelaparan
(diriwayatkan bahwa ibu tersebut memasak batu untuk menghibur anak asuhnya).
Begitulah jiwa pelayanan melekat sebagai kepribadian yang tidak terpisahkan
dalam rindunya untuk berjumpa dengan Allah.
* KH. Toto Tasmara, Penerbit Gema Insani
Press