Sekolah Inklusif? Bagi orang tua atau mereka yang berhubungan dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), perdebatan akan pendidikan inklusif berlangsung. Sebenarnya, apa saja plus minus sistem pendidikan ini.
Dalam sebuah talkshow, Fitri Ariyanti, Psi menyatakan bahwa di Barat atau negara-negara maju lainnya, pendidikan inklusif dianggap sebagai solusi paling tepat untuk ABK. Walaupun saat ini, di Indonesia perdebatan tentang pendidikan inklusif masih marak terjadi.
Lebih Dekat dengan Pendidikan Inklusif
Selama ini, pendidikan bagi ABK dibagi dalam 3 (tiga) jenis yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. Dalam SLB, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus yang sama disatukan dalam satu tempat. Maka, dikenallah SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB Tunanetra, dan sebagainya. Berbeda dengan SDLB yang menampung berbagai anak berkebutuhan khusus dengan kekhususan berbeda-beda. Sehingga, di dalam satu kelas sangat mungkin terdapat anak tunarungu, tunagrahita, tunanetra, atau tunadaksa. Sedangkan pendidikan terpadu adalah sekolah umum yang juga menampung anak berkelainan. Pendidikan terpadu inilah yang kemudian dikenal dengan pendidikan inklusif.
Landasan awal kemunculan pendidikan inklusif adalah kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan ABK yang tentunya mereka bersosialisasi dalam sebuah komunitas. Maka, menurut Freiberg, anak berkelainan harus didik bersama anak-anak lainnya untuk mengoptimalkan segala potensi yang mereka miliki.
Pada Bulan Juni, 1994, dalam Konferensi Dunia tentang Pendidikan Berkelain, Salamanca menyatakan bahwa prinsip mendasar pendidikan inklusif adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan atau perbedaan yang mungkin ada pada mereka.
Di Amerika Serkat diperkirakan hanya sekitar 0,5% ABK yang bersekolah di sekolah khusus, sedangkan selebihnya berada di sekolah biasa (Ashman dan Elkins, 1994). Sedangkan di Inggris, berkisar tahun 1980an hingga 1990an saja, peserta didik di sekolah khusus diproyeksikan menurun dari sembilan juta menjadi sekitar dua juta orang, karena kembali ke sekolah biasa (Warnock, 1978), dan ternyata populasi peserta didik di sekolah khusus kurang dari 3% dari junlah anak berkelainan (Fsh, 1985).